Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Akhwat

TATA CARA MENGKAFANI MAYIT

LANGKAH PERTAMA Ukuran Kain Kafan 1.Ukurlah lebar tubuh jenazah. Jika lebar tubuhnya 30 cm maka lebar kain kafan yang di sediakan adalah 90 cm. Jika lebar tubuhnya 40 cm maka lebar kain kafan yang di sediakan adalah 120 cm. Jika lebar tubuhnya 50 cm maka lebar kain kafan yang di sediakan adalah 150 cm. Jika lebar tubuhnya 60 cm maka lebar kain kafan yang di sediakan adalah 180 cm. 2.Ukurlah tinggi tubuh jenazah. Jika tinggi tubuhnya 180 cm maka panjang kain kafannya 60 cm menjadi 240 cm. Jika tinggi tubuhnya 150 cm maka panjang kain kafannya ditambahkan 50 cm menjadi 200 cm. Jika tinggi tubuhnya 120 cm maka panjang kain kafannya ditambahkan 40 cm menjadi 160 cm. Jika tinggi tubuhnya 90 cm maka panjang kain kafannya di tambahkan 30 cm menjadi 120 cm. Tambahan panjang kain kafan tersebut di maksudkan agar mudah mengikat bagian atas kepalanya dan  bagian bawah kakinya. LANGKAH KE DUA Tata Cara Mengkafaninya. 1.Cara mengkafani jenazah laki...

Tata Cara Menyambut Kehadiran Bayi

Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orang tua atau wali dan orang di sekitarnya melakukan hal-hal berikut : Menyampaikan Kabar Gembira Dan Ucapan Selamat Atas Kelahiran Begitu melahirkan, sampaikanlah kabar gembira ini kepada keluarga dan sanak family, sehingga semua akan bersuka cita dengan berita gembira ini. Firman Allah tentang kisah Nabi Ibrohim bersama Malaikat: وامرأته قائمة  فضحكت فبشرناها بإسحاق ومن وراء إسحاق يعقوب  ( هود :71 ) “Dan istrinya berdiri ( dibalik tirai ) lalu dia tersenyum.maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang ( kelahiran ) ishaq dan dari ishaq ( akan lahir putranya ) Ya’qub”. (QS  Hud :71 ) Dan firman Allah tentang kisah Nabi Zakariyah . فنادته الملائكة وهو قائم يصلي في المحراب أن الله يبشرك بيحي  ( آل عمران : 39 ) “ Kemudian Malaikat jibril memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan sholat di mihrob  ( katanya ) sesungguhnya Allah mengembirakan kamu dengan kelahiran  ( seorang putra...

Sebuah Mahar Mulia

Setiap wanita pastilah memiliki mimpi yang indah bagi kehidupan pernikahannya. dan ketika gerbang pernikahan telah di depan mata, pastilah juga akan banyak hal yang dipersiapkan. Salah satunya adalah tentang mahar yang akan diterima sang wanita dari calon suami mereka. Telah banyak kita mendengar, tentang kenyataan yang beredar di luaran, tentang besarnya jumlah permintaan mahar dari sang calon istri. Seolah-olah tergambar bahwa menikah itu sangat mahal dan sulit dilakukan. Saudariku yang dirahmati Allah... Sudahkah sampai kepada kita tentang kisah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah, atau yang dikenal dengan nama Ummu Sulaim? Beliau adalah salah satu wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Telah terukir dalam hati beliau keterikatan hati kepada Islam, dan  lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Bahkan oleh Rasulullah shall...

Aku Bangga menjadi Muslimah

Bangganya aku menjadi muslimah, karena Islam yang hadir sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaumku dan mengangkat derajatku dalam martabat yang manusiawi. Karena kemuliaan Islam yang sangat tinggi pula, maka aku dan kaumku terbebas dari penindasan seperti dijaman jahiliyah. Dijaman itu, dimana kelahiran para wanita selalu di anggap sebagai aib besar bagi keluarga terutama sang ayah. Karena itulah mereka tega mengubur kaumku hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina. Bahagianya aku menjadi muslimah karena tak ada beda antara kami dan para laki- laki, dalam hal timbangan kemuliaan dan ketinggian martabat di sisi Allah subhanahu wata’ala. Karena kesemuanya itu hanyalah terbedakan atas nama takwa. Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya: “Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya ke...

Mengapa Harus Dengan Akhwat?

“ Mas... kok belum berkemas-kemas... kemah itu nggak berat lho. Selain menyehatkan jasad, yang lebih penting, ia bagian dari   i'dad, persiapan dan latihan berjihad. Mas kebanggaan kami, si kecil kelak akan mencontoh Mas ,” kata seorang akhwat sambil mengelus-elus pundak suaminya. “ Adik bantu mengemasi ya... ” belum keluar jawaban dari bibir suaminya, akhwat itu telah mengeluarkan tas ransel dari lemari. Sang suami yang tadinya ogah-ogahan mulai berdiri. Bangkit mengambil hp. “ Ustadz, saya besuk ikut berangkat kemah ,” kata ikhwan itu, kini tanpa ragu-ragu. “ Lho, kemarin katanya kesulitan cuti?, ” terdengar jawaban dari balik hp “ Kalau masalah kerja insya Allah bisa diatur, Ustadz , ” Balasnya sembari tersenyum. *** Begitulah inti dialog suami-istri yang sama-sama aktifis dakwah. Saya yakin, dialog yang kurang lebih sama tidak hanya terjadi di hari itu, di keluarga itu. Ada banyak dialog yang berisi penguatan, motivasi, dan peneguhan dari akhwat kepada s...

Wahai Akhwat, Jangan Tertipu ''Playboy Berkedok Ikhwan''

“Subhanallah ukhti, Akhi Fulan bin Fulan ini benar-benar shalih, cara bicaranya,  cara merespon lawan bicara, cara memberi komentar di pesbuk, semua kata-katanya indah dan menyentuh, bahkan sangat gentlemen banget. ” Demikian kira-kira curhat seorang akhwat terdengar kepada penulis. Mungkin banyak dari kita mendapat curhat seperti itu dari rekan dekat dan sekitar. Curhat kekaguman seorang akhwat terhadap ikhwan yang dikenal via fesbuk atau jejaring sosial lain. Tidak mengherankan jika akhwat mengagumi ikhwan berlebihan, karena mungkin sang akhwat sedang terpedaya oleh kalimat menghanyutkan dari sang ikhwan. Tetapi ada hal lain yang mesti diperhatikan oleh seorang muslimah, bahwa lembut dan tegas harus diletakkan pada tempat yang proporsional. Jika kita memperhatikan pergaulan dunia maya, banyak yang tertipu dan mudah percaya dengan identitas yang tersaji. Padahal dunia maya itu tidak sepenuhnya dapat dijadikan rujukan informasi tentang identitas seseorang. Contoh yang pal...

10 wasiat untuk wanita sholehah

1. Takwa kepada Allah dan menjauhi maksiat Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah. Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncang kerajaan. Oleh karena itu jangan engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah. Wahai hamba Allah..! jagalah Allah maka Dia akan menjagamu beserta keluarga dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan menceraiberaikan keutuhannya. Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata:Aku mohon ampun kepada Allah! itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku) Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya: - Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar. - Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya dan sum’ah. ...

Dialah Istri Kesayanganku

Saat pertama kali dia datang sebagai ratu di rumahku, aku terkesan ketika memandangnya. Memang tidaklah terlalu cantik atau teramat istimewa, namun ada sesuatu yang begitu mengusikku. Berbeda, sangat berbeda, dia berbeda dengan perempuan kebanyakan. Matanya tidaklah lentik, namun sangat memancarkan keteduhan. Tampilannya pun biasa, bukan penuh permak atau berlapis bedak. Sangat natural ketika dilihat. Tapi sekali lagi aku merasakan sebuah keanehan saat bersama perempuan ini. Dia yang selalu menggandeng kesejukan hati dalam setiap aku mengingatnya. Keharuman damai yang akan terasa tersebar dalam lingkungan yang melingkupinya. Terutama kepadaku. Alunan kalimatnya tidak terlalu banyak menggambarkan kata, hanya sesaat, namun penuh makna. Mengajak siapa saja yang mendengarnya berpikir dan merenung. Sama sekali tiada kalimat tersia- tersia tanpa berkah. Tiada kekasaran apalagi cacian yang menghapus elegannya seorang wanita. Aku memperhatikan, saat dia b...

SURAT CINTA UNTUK AKHI...

Malam telah larut terbentang. Sunyi. Dan aku masih berfikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh prasangka. Semua semata-mata hanya untuk muhasabah terutama bagi diriku, makhluk yang Rasulullah SAW sinyalirkan sebagai pembawa fitnah terbesar.—Suratmu sudah kubaca dan disimpan. Surat yang membuatku gementar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tidak boleh tidur kebelakangan ini."Ukhti, saya sering memperhatikan anti. Kalau sekiranya tidak dianggap lancang, saya berniat berta'aruf dengan anti."Jujur kukatakan bahwa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian. Tetap saja yang 'kesekian' itu yang membuatku diamuk perasaan tidak menentu. Astaghfirullahaladzim. Bukan, bukan perasaan melambung kerana merasakan diriku begitu mendapat perhatian. Tetapi kerana sikapmu itu mencampak ke arah jurang kepedihan dan kehinaan. 'Afwan kalau yang terfikir pertama kali di benak buka...